This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 04 Desember 2014

Berbagai Cara Meminimalisir Tereksposnya Informasi Pribadi dalam Dunia Maya

 Vemale.com - Adanya perkembangan teknologi yang bernama internet ternyata juga memberikan dampak yang buruk lho, Ladies. Dengan banyaknya situs pertemanan dan chatting online, banyak dari anda yang sering menuliskan data pribadi anda dan memberikan data tersebut pada orang yang belum begitu anda kenal di dalam situs-situs tersebut. Benar tidak, Ladies sekalian?

Anda mungkin menganggap bahwa hal tersebut bukanlah hal yang besar dan tidak akan membahayakan diri anda. Pemikiran seperti inilah yang harus dijauhkan dari pemikiran anda. Hal ini dikarenakan dengan mengetahui data pribadi anda tersebut, banyak orang jahat yang bisa memanfaatkannya untuk melakukan berbagai hal yang kurang baik dan salah satunya adalah dengan merayu anda untuk kopi darat dan akhirnya melakukan pelecehan dan kekerasan seksual pada anda.

Meskipun kemungkinan-kemungkinan tersebut sangat menakutkan, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk bisa menghindari hal tersebut untuk terjadi, Ladies. Cara-cara tersebut, seperti yang dikemukakan dalam laman online rain.org, adalah

    Memastikan bahwa komputer anda aman. Anda mungkin bisa mengeceknya terlebih dahulu apakah ada orang lain yang bisa mengakses komputer anda selain diri anda sendiri. Untuk komputer pribadi, anda mungkin bisa melindungi kerahasiaan data dalam komputer anda dengan password
    Jika anda memiliki akun dalam situs pertemanan, anda mungkin bisa mengedit privacy setting tentang data-data pribadi anda di dalam situs pertemanan tersebut agar tidak semua orang bisa membacanya
    Bersihkanlah history dan juga cache internet yang ada di dalam telepon genggam anda.

Oleh: Meilia Hardianti

----
Kamu punya kisah inspirasi (cinta, pernikahan, persahabatan, keluarga, dll) atau punya tips keren seputar wanita? Silakan kirim ke redaksivemale@kapanlagi.net.

Share your story and let's be friends with Vemale.com :)

Menghindari Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Pesta

 Vemale.com - Sebagai seorang manusia yang merupakan makhluk sosial, anda pasti tidak bisa menghindari interaksi-interaksi dengan teman-teman sejawat anda, Ladies. Seringkali anda harus berinteraksi dengan mereka atau menghadiri pesta-pesta yang mereka selenggarakan. Namun masalahnya adalah, dalam pesta-pesta seperti inilah biasanya kecenderungan adanya kekerasan dan pelecehan seksual lebih tinggi.

Menghindari pesta-pesta seperti ini mungkin merupak

Untuk menghadapi hal ini, rainn.org memiliki solusinya, Ladies sekalian. Solusi-solusi tersebut dirangkum dalam berbagai cara yang meliputi

    Ketika anda menghadiri pesta-pesta yang diadakan oleh teman-teman sejawat anda, usahakan anda datang bersama-sama dengan teman-teman anda yang lain. Anda dan teman-teman anda tersebut harus selalu bersama-sama sepanjang acara tersebut dan nantinya juga meninggakan acara tersebut secara bersamaan
    Jika anda merasa bahwa situasi dalam pesta tersebut tidak aman, percayalah pada insting anda tersebut. Temuilah teman yang menyelenggarakan pesta tersebut, berbasa-basi sebentar dan segeralah meninggalkan pesta tersebut. Insting anda mungkin benar dan dengan melakukan hal tersebut, anda telah menghindari hal-hal buruk yang menurut insting anda mungkin terjadi pada diri anda.

Oleh: Meilia Hardianti

----
Kamu punya kisah inspirasi (cinta, pernikahan, persahabatan, keluarga, dll) atau punya tips keren seputar wanita? Silakan kirim ke redaksivemale@kapanlagi.net.

Share your story and let's be friends with Vemale.com :)
an satu cara yang muncul pertama kali dalam benak anda. Namun, hal ini tidak bisa terus dilakukan karena anda bisa saja menyinggung perasaan teman yang mengundang anda untuk menghadiri pesta tersebut. Selain itu, hal ini merupakan hal yang tidak sopan untuk dilakukan.

Pelecehan Seksual di Konvensi Tailhook

 
Vemale.com - Jika anda mendengar tentang angkatan bersenjata, anda pasti berpikiran bahwa salah satu dari tugas mereka adalah melindungi anda dan juga orang-orang lain sebagai bagian dari negara tempat mereka mengabdi. Hal ini memang begitulah seharusnya adanya. Para prajurit dilatih sedemikian rupa selain untuk melindungi negara juga untuk melindungi penduduk-penduduk di dalam negara tersebut.

Akan tetapi, ternyata ada beberapa kasus pelecehan seksual yang melibatkan angkatan bersenjata tersebut. Kasus yang dimaksud ini tidak hanya satu atau dua saja lho, Ladies. Kasus pelecehan seksual yang melibatkan angkatan bersenjata ternyata telah mencapai angka puluhan. Hal yang sangat disayangkan bukan?

Salah satu kasus pelecehan seksual yang terjadi di kalangan angkatan bersenjata adalah satu kasus yang dikenal dengan nama skandal Tailhook. Nama tersebut diberikan dalam kasus ini karena pelecehan seksual yang satu ini terjadi pada sebuah konvensi yang diselenggarakan di Tailhook.

Dikisahkan dalam legalzoom.com, kasus ini terjadi pada seorang mantan letnan Angkatan Laut yang bernama Paula Coughlin. Letnan yang satu ini mengaku telah menjadi salah satu dari sekian banyak korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh para perwira Angkatan Laut yang pada saat itu sedang menghadiri konvensi tersebut. Pelecehan seksual ini terjadi pada saat perwira-perwira tersebut sedang mabuk setelah berpesta bersama dengan teman-teman mereka di acara konvensi tersebut.

Oleh: Meilia Hardianti

----
Kamu punya kisah inspirasi (cinta, pernikahan, persahabatan, keluarga, dll) atau punya tips keren seputar wanita? Silakan kirim ke redaksivemale@kapanlagi.net.

Share your story and let's be friends with Vemale.com :)

Pelecehan Seksual di Pabrik Motor Ternama

 Vemale.com - Kasus tentang pelecehan seksual memang sepertinya tidak ada habisnya ya, Ladies. Setiap hari pasti ada saja yang menjadi korban kasus pelecehan seksual entah itu hanya sebatas pelecehan seksual yang ringan seperti ada yang bersuit-suit kala seorang wanita lewat atau pelecehan seksual yang termasuk dalam pelecehan seksual yang berat seperti pemerkosaan, perdagangan perempuan, dan masih banyak lagi. Dalam taraf yang manapun pelecehan seksual tersebut terjadi, kasus ini sangatlah mengganggu kenyamanan para penduduk di dunia ini.

Dalam sejarah kasus pelecehan seksual, ada beberapa kasus yang termasuk dalam kasus yang dikategorikan sebagai kasus yang cukup besar dan masih diingat publik hingga bertahun-tahun setelah kasus tersebut terjadi. Salah satu kasus yang dimaksud di sini adalah kasus pelecehan seksual yang terjadi di sebuah pabrik motor ternama.

Diceritakan dalam legalzoom.com, kasus ini bermula dari laporan beberapa pekerja wanita di pabrik motor tersebut. Laporan tersebut mengatakan bahwa banyak pekerja wanita yang mengalami pelecehan seksual dalam bentuk guyonan, perkataan dan perbuatan yang berbau seksual yang tentunya tidak membuat para pekerja wanita tidak nyaman. Kasus seperti ini terjadi sejak tahun 1990 dan baru dilaporkan pada tahun 1998.

Selama rentang waktu tersebut, banyak pekerja wanita yang memutuskan untuk berhenti bekerja di pabrik motor tersebut. Mereka tidak tahan dengan perlakukan yang mereka dapatkan dari pekerja-pekerja lain tersebut meskipun terkadang mereka dijanjikan posisi tinggi jika mereka mau menjadi objek pelecehan seksual itu.

Oleh: Meilia Hardianti

----
Kamu punya kisah inspirasi (cinta, pernikahan, persahabatan, keluarga, dll) atau punya tips keren seputar wanita? Silakan kirim ke redaksivemale@kapanlagi.net.

Kisah Aruna Dan Petisi Kasus Kekerasan Seksual Raja Solo

Vemale.com - Beberapa bulan lalu, masyarakat dikejutkan dengan berita kasus kekerasan seksual yang mengguncang kota Solo dan Keraton Surakarta. Sang korban bernama AT (16 tahun), melaporkan kasus kekerasan seksual yang melibatkan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono (PB) XIII Hangabehi. Kasus ini seperti berjalan di tempat, bahkan pemeriksaan terhadap sang raja harus mundur akibat stroke yang dideritanya.

Dari banyaknya berita yang beredar dan mandeknya kasus ini, Ninin Damayanti, seorang penulis, jurnalis dan inisiator Break the Silence Indonesia menuliskan kisahnya saat bertemu dengan AT beberapa waktu lalu. Inilah sepenggal kisah yang kami rangkum dari blog pribadi milik Ninin Damayanti.

***

Aku merinding hebat. Pertemuan dengannya siang itu tidak pernah kuduga. Bahkan kalau memungkinkan, aku tidak ingin berjumpa dia. Aku tidak sanggup. Dia masih sangat belia. Kulitnya kuning langsat, rambutnya ikal panjang. Senyumnya kenes sekali. Tapi matanya. Aku tidak bisa melihat matanya. Mata itu menyiratkan luka.

Aku langsung memeluknya lalu kuajak duduk. Dia memilih kursi di ujung meja. Tubuhnya mungil, tapi perutnya besar karena mengandung janin delapan bulan. Aku membantunya menarik kursi. Agak kesulitan dia. Saat kutemui di sebuah hotel di pusat kota Surakarta, dia baru bangun tidur. Kelelahan sepulang dari kantor Kepolisian Resort Sukoharjo, Jawa Tengah. Dia menengok ke seorang perempuan berjilbab coklat yang tadi mengikutinya keluar dari kamar. “Bude, aku lapar. Minta roti.” Seperti dikomando, perempuan berjilbab coklat itu bergegas pergi, membeli roti.

Kami berempat duduk menemani. Aku, dua pengacara, dan seorang  perempuan aktivis bernama Lusi.  “AT, kenalkan. Mbak Ninin dan Mbak Lusi. Mereka berdua ini juga mbakmu,” kata Iwan Pangka, menunjuk aku dan seorang teman. “Kamu capek?” tanya Iwan. Dia hanya tersenyum malu. Mengangguk pelan.

Bang Iwan memanggil AT. Tapi aku ingin memangggilnya Aruna. Nama putera Dewi Winata dan Bagawa Kashyapa. Dalam bahasa Sansekerta nama ini berarti bersinar kemerahan. Seperti sinar merah mentari di ufuk timur pada pagi hari.

“Kamu sehat?” Akhirnya aku berani bersuara. Sial. Suaraku bergetar. Ternyata, bertemu perempuan korban perkosaan tidak semudah yang kukira. Aku pikir aku bisa. Ternyata sulit sekali. Aku mencoba berjarak, tidak terbawa emosi. Tapi mata gadis itu membuatku beku. Lagi, dia tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.

Bang Iwan melawak memecah kebisuan. Dia mencoba tertawa. Tapi gelaknya hanya sekejap. Bahkan nyaris tanpa suara. Lebih banyak diam dan termenung atau memandang lurus ke arah salah satu dari kami.  Bukan. Bukan memandang ternyata. Tapi menerawang. Sesekali tangannya memainkan ujung kaos lengan panjang berwarna biru gelap.

Matanya tidak bisa menyembunyikan kejadian laknat di sore itu. Hari ketika dia direnggut dari mimpi yang paling indah. Mimpi bekerja di dunia perhotelan dan mimpi menjadi fotografer profesional. Usianya masih sangat belia, 16 tahun. Siswi kelas 1 SMK jurusan perhotelan. Tapi dia mengandung anak yang tidak dia inginkan. Diduga, anak seorang Raja Kasunanan Surakarta: Pakubuwono XIII Hangabehi.

Maret 2014. Gadis remaja itu kebingungan harus membayar uang sekolah yang sudah menunggak tiga bulan dan melunasi uang ujian semester. Dia, bungsu dari 10 bersaudara. Bapaknya seorang tukang becak sekaligus buruh kasar di kota kecil Surakarta. Ibunya sudah meninggal dunia. Aruna lalu menemui teman semasa SMP bernama Yessy. Dia minta dicarikan pekerjaan. Temannya menyanggupi. Seminggu kemudian, Aruna mendapat kabar. “Sinuhun mau memberimu uang,” kata Yessy. Aruna gembira bukan kepalang.

Pada suatu siang sepulang sekolah, dia dijemput dari rumah. Aruna membonceng sepeda motor milik Yessy. Rupanya, seorang perempuan bernama Wati sudah menunggu di Tugu Lilin. “Kamu nanti ikut saja apa maunya Sinuhun ya?” kata Wati. “Oh iya, kalau ditanya, namamu Putri.”

Wati menelpon seseorang. “Ini sudah ditunggu di tempat biasa.” Tak lama, sebuah mobil berwarna putih menghampiri mereka. Aruna disuruh masuk dan duduk di depan. Di dalam mobil ada seorang lelaki gaek berusia kurang lebih 60 tahun. Rupanya dia yang dipanggil Sinuhun. Tidak ada orang lain. Hanya mereka berdua.

“Namamu siapa?”

“Putri”

Sinuhun menyodorkan sebuah permen berwarna putih tanpa bungkus. Aruna mengulurkan tangan tanpa curiga, memasukkan ke dalam mulut. Permen rasa mint. Seketika dingin menyergap rongga mulut dan tenggorokan. Tapi yang tersisa di lidah hanya rasa pahit obat.

Setelah menyecap permen itu, Aruna mengantuk. Juga pusing. Sementara, mobil yang ditumpanginya sudah tiba di Hotel Mulia karena jaraknya hanya 15 menit dari Tugu Lilin. Dia dibantu turun oleh Sinuhun. Di tangga, tubuhnya tak kuat lagi menahan kantuk dan pusing. Dia ambruk. Yang Aruna ingat, dia dibantu seorang petugas hotel masuk ke kamar.

Entah apa yang terjadi di kamar hotel sore itu. Aruna tidak tahu. Aruna tidak sadar.

Petang datang. Semburat ungu-jingga menyelinap dari balik jendela kamar. Aruna terbangun dari tidur yang lelap. Sinuhun yang membangunkan. Dia heran, kenapa dia tanpa busana? Heran belum juga hilang,  dia merasa ingin sekali ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Sinuhun memotret tubuh Aruna yang masih telanjang bulat dengan kamera ponsel. Sudah itu, Aruna berpakaian.

Aruna tidak tahu. Aruna tidak sadar.

Dia diantar kembali ke Tugu Lilin. Di sana, rupanya Yessy dan Wati masih menunggu. Sinuhun memberikan segepok uang, Rp 2 juta. Wati yang menerima.  Aruna tidak tahu menahu transaksi itu. Lalu, mereka pergi ke rumah Yessy. Di sana, Aruna diberi uang Rp 700 ribu.  “Abis ini kamu beli jaket ya?” kata salah satu dari mereka. Jaket itu kini disita polisi jadi barang bukti.

Dua bulan kemudian,  Aruna heran apa yang terjadi dengan tubuhnya. Dia telat datang bulan. Vaginanya keputihan hebat. Belum lagi ruam merah muncul di dada dan perutnya. Tubuhnya dipenuhi bintik-bintik merah. Herpes. Panik, dia bercerita pada teman dekatnya. Mereka memutuskan membeli alat tes kehamilan. Positif. Aruna bingung bukan kepalang. Yessy menghilang entah kemana. Aruna juga “hilang”. Gadis yang senyumnya kenes sekali itu menegak ciu. Tidak tanggung-tanggung, dua liter sekaligus. Dia mencoba mati.

“Nduk”

Yang dipanggil tidak mendengar. Dia melamun.

“Nduk!”

Aruna menoleh. Dia tersenyum lebar. Pesanannya sudah datang. Donat rasa cokelat dan keju.

“Abis ini jalan-jalan ke mall yuk.”

Dia beringsut pelan dari kursi. Tubuh mungilnya tak kuat menahan perut yang semakin besar. Dia memandang manja pada Bude, tangannya menggapai meminta tolong. Bude tahu apa yang dia mau. Perempuan itu menyambut tangannya, memeluk tubuhnya, dan membantu Aruna beranjak. Mereka pergi meninggalkan hotel, menuju Solo Grand Mall yang letaknya bersebelahan dengan hotel.

“Dia harus didampingi psikolog. Trauma sekali dia,” kata Mbak Asri Purwanti, pengacara. “Masalahnya, polisi itu seperti menghambat kami. Mempermalasahkan surat kuasa, berdebat soal pendampingan psikologis. Polisi gak tahu kalau korban kekerasan seksual itu perlu penanganan khusus,” Iwan menambahkan. Tim pengacara sudah meminta bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban untuk ikut mendampingi bersama seorang psikolog. (Ralat: Atas permintaan narasumber, dia menolak namanya disebutkan)

Sejak kasus dilaporkan akhir Juli lalu, Aruna dan keluarganya sudah bolak-balik ke kantor polisi memberikan kesaksian. Wati yang kabur ke Pasar Minggu rupanya sudah ditahan. Kata polisi, masa penahanan Wati sudah hampir habis. Polisi berkilah, kesaksian Aruna diperlukan untuk mempercepat berkas Wati agar bisa dilimpahkan ke Kejaksaan. “Loh itu kan bukan urusan kami. Itu urusan polisi,” kata Iwan dengan nada tinggi.

Bagaimana dengan Sinuhun? “Belum dimintai keterangan,” jawab Asri. “Bahkan dalam status sebagai saksi pun belum pernah.” Tim pengacara khawatir, polisi hanya akan membidik Wati masuk penjara. Sementara si pelaku, Raja Kasunanan Surakarta, tidak tersentuh.

Pekan lalu, kepada wartawan, Kapolres Sukoharjo AKBP Andy Rifai mengatakan sudah mengirim surat pemanggilan pertama kepada Pakubuwono XIII Hangabehi. “Jika dalam dua kali pemanggilan tidak datang, kami harus melakukan pemanggilan paksa.” Nyatanya, Sinuhun tidak pernah datang. Belum diketahui, apakah surat panggilan kedua sudah dikirimkan.

Kami masih mengobrol di lobi hotel ketika Aruna pulang dua jam kemudian. Anak-anak rambut di kening terlihat basah karena keringat. Dia meringis sakit. Kedua tangan Aruna memegang pinggulnya yang mungil. Pinggul yang belum siap menahan beban seorang bayi. Tidak tahan, dia berjongkok di tengah lobi. Bude memanggilnya ke kamar. Aruna berdiri, berjalan sambil menyeret kaki.

Aku, Lusi dan Bang Iwan memutuskan pulang. Kami menyambangi kamarnya. Tok.. tok.. tok..

“Aruna … ”

Ternyata Bude yang membuka pintu. Aruna sedang tiduran di ranjang, bergegas bangkit.

“Sini, Aruna,” aku memanggilnya.

Aku memeluk dia erat. Lama sekali. Kucium  pipi kanan dan kiri. Kubelai rambut Aruna yang ikal. Ah, lagi-lagi aku tidak kuat melihat mata itu. Mata yang menyiratkan luka.

“Jadi perempuan harus tangguh. Harus kuat. Nduk Ayu, kamu pasti bisa.” Suaraku masih bergetar

“Kamu bisa jadi fotografer. Bisa. Pasti bisa!” Lusi memberi semangat.

Mendengar kata-kata Lusi, dia tersenyum lebar. Sekelebat aku melihat sinar mata itu sempat berbinar. Sesaat. Tapi padam lagi.

Aku melangkah meninggalkan hotel dengan kaki lemas. Mataku panas menahan air mata jatuh sesiangan tadi. Ah, entah kapan aku bisa melihat kedua matamu itu bersinar seterusnya. Kamu pasti bisa, Aruna. Bersinar seperti matahari pagi.

Yogyakarta, 4 Oktober 2014.

***

Ninin Damayanti tidak sekedar menuliskan pertemuan singkat dengan Aruna. Sebuah petisi digulirkan agar kasus ini segera ditangani. Hukum seharusnya melindungi semua warga negara, tidak boleh ada hukum yang tumpul atas nama kekuasaan dan jabatan. Saat kami pantau, petisi untuk mendorong kepolisian agar menuntaskan kasus Aruna masih memerlukan ratusan tanda tangan dari kita semua.





Kepolisian Negara Republik Indonesia, mana keberpihakanmu pada anak yang menjadi korban?

Karena itu, kami mendesak agar :

1. Polisi segera melakukan pemeriksaan terhadap Raja Solo.

2. Pemeriksaan terhadap pihak hotel dan stafnya.

3. Tes DNA segera setelah korban melahirkan.

4. Pengacara meminta dokter pembanding untuk memeriksa kesehatan Raja (dokter yang dipilih bukan oleh polisi).

Jangan sampai jatuh korban lagi. Pelaku harus dihukum setimpal. Wujudkan keadilan bagi korban!


Itulah sepenggal isi petisi agar keadilan bisa ditegakkan dan tidak ada lagi korban-korban selanjutnya. Hanya dengan mengisi nama dan alamat email, Anda sudah mengambil bagian untuk membantu adik kita, Aruna.

ISI PETISI: Kapolri, Periksa Raja Solo Hangabehi atas dugaan pemerkosaan anak

Luangkanlah sedikit waktu Anda untuk mengisi petisi tersebut, tidak akan lebih dari 1 menit. Besar harapan kami bahwa setiap petisi yang terkumpul bisa menjadi setitik sinar terang, bagi Aruna dan kita semua.

Terima kasih kepada mbak Ninin Damayanti atas kesediaannya membagi tulisan ini untuk Vemale.com. Tulisan yang sama bisa Anda baca di blog milik Ninin Damayanti, nagaketjil.com, Gadis Bernama Aruna.

----
Kamu punya kisah inspirasi (cinta, pernikahan, persahabatan, keluarga, dll) atau punya tips keren seputar wanita? Silakan kirim ke redaksivemale@kapanlagi.net.

Jumat, 31 Oktober 2014

CERITA WARTAWAN JEPANG BERTEMU PSK INDONESIA DI TOKYO

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang wartawan Jepang menuliskan pengalamannya bertemu berbagai PSK di Tokyo terutama di kawasan Shin Okubo Tokyo yang memang banyak sekali orang Asia di sana termasuk orang Indonesia. Paling banyak adalah orang Korea sehingga daerah itu sering dijuluki Korean Town-nya Tokyo.

"Tengah malam saat kereta api hampir habis saya jalan-jalan sekitar Okubo dan Shin Okubo, yang terkenal sebagai “Ginza of prostitution” karena banyak orang asing sebagai PSK berjalan-jalan malam hari di sana," tulis wartawan Jepang yang dimuat majalah Spa edisi 14-21 Oktober 2014.

Daerah tersebut mulai penuh dengan aktivitas malam sejak 10 tahun terakhir ini. Sekitar 100 orang bekerja di tepian jalan kalau sudah tengah malam.

"Belum lama ini tengah malam saat saya berjalan di sana ada sekitar 30 PSK berdiri di pinggir jalan dan banyak di antaranya memanggil saya dengan suara halus," tambahnya.

Setelah menyapanya, diketahui mereka dari berbagai bangsa antara lain dari Indonesia, China, Amerika Selatan dan sebagainya ada di pinggir jalan.

"Tetapi cukup mengagetkan tak menemui orang Korea," tulisnya lagi.

Alasannya menurutnya, karena sama-sama orang asing, tak mau tumpang tindih dan lagi pula di kota Korea banyak sekali orang Korea sehingga PSK Korea kebanyakan ada di dalam klub malam, tidak muncul di pinggir jalan.

Kebanyakan PSK usia 40 tahunan dan paling banyak dari China. Tetapi belum lama ini ada penggerebekan di Roppongi membuat jumlah mereka agak berkurang saat ini.

Apabila ada yang memakainya, pembayaran 10.000 yen untuk PSK di pinggir jalan, lalu bermain di hotel dan uang hotel tentu lelaki yang membayarnya.

Komunikasi dengan PSK umumnya kini dengan ponsel masing-masing, janjian bertemu di suatu tempat. Atau mendapatkan PSK dari ponsel, media sosial Jepang tempat chatting.

Kebanyakan PSK ini bertaburan ke luar saat liburan musim panas karena banyak yang jalan-jalan di sekitar sana.

DIKIRA KELOMPOK OPK, TUJUH MAHASISWA YOGYA HAMPIR DIRAJAM MASSA

TRIBUNNEWS.COM, OELAMASI - Tujuh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dikejar massa dari Baun, ibukota Kecamatan Amarasi Timur hingga perbatasan Kota Kupang, sejauh 25 kilometer.

Mereka nyaris dirajam massa yang mengejar pakai sepeda motor. Para mahasiswa ini tertolong setelah dijemput puluhan anggota Polres Kupang menggunakan mobil Dalmas Polres Kupang.

"Para mahasiswa ini diamankan di Polres Kupang sementara. Diambil keterangan, lalu dilepas. Karena memang mereka bukan OPK (Orang Potong Kepala). Mereka sudah tunjukkan bukti kartu mahasiswa," jelas Kapolres Kupang, AKBP Michael Lingga Ken, didampingi Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Raden Dwi Ramandhantio, S.H, di Mapolres Kupang, Kamis (30/10/2014) petang.

Tujuh mahasiswa yang nyaris menjadi korban rajam massa adalah Georgie Chrysandi Bangapadang, Kristo Mulyagan Robot, Hendri Pramono, M Banyu Bening, Martina Ari Saraswati, M David Yunan, dan Wachid Adnan.

Salah satu mahasiswa ISI Jogjakarta, Georgie Chrysandi Bangapadang, usai diperiksa penyidik, menuturkan kronologi peristiwa.

Awalnya mereka berangkat ke Pantai Tablolong untuk piknik, setelah kegiatan pentas seni di Kampus FKIP, Undana Kupang. Mereka menggunakan mobil Kijang Krista LGX DH 1463 AB. Namun karena jalan menuju Tablolong ditutup sementara, mereka berbalik arah dan menuju Baun, ibukota Amarasi.

"Saat tiba di Baun, pas jam anak sekolah pulang. Karena bertemu rombongan anak sekolah, kami berhenti membagi permen. Tapi anak-anak itu menghindar dan menyebut kami orang jahat," jelas Chrisandy.

Mereka melanjutkan perjalanan dan bertemu salah satu guru. Mereka bertanya di mana pantai. Lalu dijelaskan jalur jalan yang harus dilalui.

"Saat kami jalan lagi, kami bertemu dua ibu guru. Kami sempat berdialog dan bertanya, kenapa anak-anak takut kepada mereka? Lalu dua ibu guru itu jelaskan ada isu OPK (orang potong kepala). Jadi situasi genting dan orang asing selalu dicurigai," tutur Chrisandy menirukan penjelasan dua ibu guru itu.

Namun karena niat rombongan mahasiswa itu adalah piknik ke pantai, cerita dua ibu guru itu dilupakan. Mereka terus melanjutkan perjalanan ke pantai.

"Namun kami lihat pantainya masih jauh sekali. Karena ada bukit-bukit yang menghalangi. Kami balik lagi dengan mobil. Tapi saat tiba di pintu gerbang desa yang bertulis Jasa Raharja, kami diadang salah satu bapak menggunakan sepeda motor," cerita Chrisandy.

Setelah menjelaskan duduk persoalan, para mahasiswa dibawa ke rumah salah satu tokoh masyarakat. Mereka berlindung di situ, menunggu dijemput polisi.

"Datanglah dua anggota Polsek Baun. Tapi massa yang datang sudah semakin banyak. Bahkan ada yang sudah melempari mobil kami. Karena takut dirajam dan dibunuh massa, dua anggota Polsek berinisiatif mengawal kami pulang ke Kupang," jelas Chrisandy.

Salah satu anggota polsek mengambil alih kemudi mobil. Namun, lanjut Chrisandy, mereka dikejar massa menggunakan sepeda motor.

"Massa terus kejar mobil kami sambil berteriak OPK...OPK..! Mereka membawa golok, kayu dan batu. Di setiap persimpangan jalan, massa mengadang tapi mobil terus dipacu. Terjadi kejar-kejaran yang sangat seru dan sengit. Sangat menakutkan!" kisah Chrisandy.

Tiba di persimpangan di Rumah Sakit Santu Boromeus, Sikumana, mobil Dalmas Polres Kupang tiba lalu mengadang massa. Sedangkan mobil yang ditumpangi mahasiswa terus lari menyelamatkan diri ke Mapolres Kupang di Babau.

Pantauan Pos Kupang (Tribunnews.com Network), para mahasiswa diambil keterangan di Mapolres Kupang, Kamis malam, dipantau langsung Kapolres Kupang, AKBP Michael Lingga Ken dan Kasatreskrim Iptu Raden Dwi R.

Para mahasiswa sempat diberi makan dan minum lalu dilanjutkan pemeriksaan. Para mahasiswa menolak diambil gambarnya. Bahkan ada oknum penyidik Satreskrim bernama Rio Siahaan melarang wartawan meliput kasus tersebut.

Pukul 19.00 Wita, Dekan FKIP Undana, Dr. Marsel Robot didampingi Pembantu dekan I Dr. Paul Taek, Pembantu Dekan 2 Markus Hewar, Pembantu Dekan 3 Melkianus Taneo, dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Christ Labuludji, tiba di Mapolres Kupang untuk berkoordinasi dengan penyidik.